~ Untitled
Semenjak ulang tahun saya di awal Juni kemarin, hubungan saya dan Angga semakin bermasalah. Untuk pertama kalinya, saya merasa marah dan enggak bisa menolerir kelakuan dia lagi. Waktu itu rasanya capek banget. Kami bahkan sempat berantem besar saya marah-marah satu arah (lah wong dia tetap lempeng dan enggak bereaksi apa-apa) di hari ulang tahun saya. Boleh dibilang, ini adalah turning point kami berdua untuk berpikir ulang tentang hubungan ini.
To cut a long story short, kami jadi sadar bahwa hubungan ini mulai enggak sehat dan ada banyak hal yang perlu dibicarakan. Sayangnya, karena banyak pertimbangan ini-dan-itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini dan memilih untuk jalan sendiri-sendiri aja. Sedih? Ya pasti sedih banget. Apalagi saya merasa hubungan ini udah menjadi bagian dari comfort zone saya. Tapi saya juga enggak bisa bohong kalo saya capek menghadapi dia yang terbiasa seenak perutnya sendiri. Angga juga mungkin merasa capek menghadapi saya yang berbeda 180° dengan dia. Hidup Angga saat ini sedang 'dikuasai' oleh pekerjaan dan program MTnya di bank tersebut. Sementara saya, 3/4 waktu yang saya miliki habis oleh pekerjaan dan bisnis WO yang baru dirintis ini. Malu sih untuk mengakuinya, tapi kayanya kesibukan dan prioritas kami terhadap pekerjaan masing-masing juga menjadi salah satu penyebab keputusan tersebut. :(
Kalau meminjam kata-katanya Angga waktu itu, "Kita sama-sama udah dewasa dan kita udah nyoba untuk ngejalanin ini. Tapi ternyata enggak work out. Ya jangan dipaksain.." Jujur, to the point, dan terkesan #jleb ya? Hehe. Tapi ya itulah Angga, bahkan di saat putus pun, dia enggak memberi saya space dan waktu sama sekali untuk drama. Jadi, proses putusnya kami bisa dibilang jauuuhhh dari drama dan emosi. Hubungan ini berakhir dengan baik-baik, enggak dendam apalagi sampai dibawa ke liang kubur. Dengan demikian, enggak ada alasan untuk saya, Angga, dan keluarga kami untuk memutuskan tali silaturahmi.
Rasanya enggak akan pernah ada habisnya deh kalau saya mau menghitung berapa kali saya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik. Keberadaan hubungan ini dan kesempatan untuk mengenal Angga lebih dekat merupakan salah satu pengalaman yang paling berharga. Saya juga tidak akan pernah menyesali keputusan yang saya ambil, baik untuk memulai maupun mengakhiri hubungan ini. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa keputusan untuk jalan sendiri-sendiri ini merupakan pilihan yang tepat *chanting*. Toh nanti kalau memang berjodoh, pasti ada jalannya deh. Kalau memang Angga adalah jodoh yang terbaik untuk saya, pasti Tuhan akan memberikan kemudahan. Kalau Angga bukan jodoh saya, ya insya Allah akan ada pengganti yang jauuuuuhhh lebih baik dari dia, vice versa.
Setelah putus pun, saya dan mama tetap menjalin hubungan yang baik sekali dengan Angga dan keluarganya - terutama dengan mamanya - yang menilai masalah ini dengan sangat objektif. Kami sudah beberapa kali bertemu dan masih sering BBMan sampai tengah malam. Saya akan selalu menganggap beliau sebagai teman baik saya, lepas dari statusnya sebagai mantan-calon-mama-mertua. Hehehe. Waktu itu pernah sih, saya berniat untuk 'pamitan' dengan keluarga mereka. Di luar dugaan, mamanya malah 'ngomel' dan meminta saya untuk bersikap biasa aja. Beliau bilang, "Syita sayang, please. Kok kayak tante mau pergi ke mana aja." Hahahaha. Kalau ada pemilihan manusia dengan hati terbening 2011, udah pasti tante Bea yang jadi pemenangnya. :D
Dua hari yang lalu, tante Bea mengirimkan satu pot bunga anggrek dan kartu ucapan selamat berpuasa yang ditujukan kepada ibu saya. Kami terharu banget :'''''') Waktu saya tanya alasannya, beliau bilang bahwa beliau tidak mau rasa kekeluargaan ini berakhir. Ia ingin saya, Angga, dan keluarga kami tetap bersahabat baik. Mbrebes mili deh. Puji syukur ka Gusti Nu Maha Agung, terima kasih sudah memberikan kami keluarga baru yang semanis dan sebaik ini :'').
Mungkin ini juga yang menjadi salah satu penyebabnya kenapa hati saya masih 'nyangkut' di Angga. Kalo kata bulay-bulay di luar sana, moving on isn't as easy as it sounds. Sampai saat ini pun, saya belum berhasil melewati fase denial. Masih sering nangis, masih dengerin lagu-lagu patah hati, dan masih menolak kalau ada teman yang mau memperkenalkan saya ke cowok lain :D. Nanti kalau udah tiba waktunya, kalau si hati udah siap, saya juga pasti akan membuka diri lagi kok. Tapi untuk saat ini, saya mau fokus ke pekerjaan dan Amaya dulu deh :).
Dear Angga, Tante B, and the rest of the family, matur nuwun sanget ya untuk semuanya. Semoga keberadaan saya selama ini juga memberikan kenangan baik bagi kalian ya *peluk*.











